Setahun Sebelum Wafat, Kemana Saja Perjalanan Dakwah KH Ahmad Dahlan di Tahun 1922?
Setahun Sebelum Wafat, Kemana Saja Perjalanan Dakwah KH Ahmad Dahlan di Tahun 1922?
Pernah bayangin nggak, gimana rasanya di tahun-tahun terakhir hidup, kita masih sibuk bolak-balik kota naik kereta api kelas ekonomi, dokar, atau mungkin jalan kaki, demi menyebarkan sesuatu yang kita yakini benar?
Itulah yang dilakukan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, di tahun 1922. Setahun sebelum beliau wafat (tepatnya 23 Februari 1923), beliau nggak sibuk istirahat atauwasiat-wasiat panjang. Justru sebaliknya: beliau makin gencar jalan ke mana-mana. Padahal umur beliau waktu itu 53-54 tahun. Jauh dari muda. Tapi semangatnya? Kayak anak muda yang baru nemu tujuan hidup.
Nah, kita akan ikuti jejak beliau satu per satu. Karena ini bukan sekadar catatan sejarah. Ini pelajaran hidup tentang dedikasi, keberanian, dan cinta pada umat. Siap? Kita berangkat dari Yogyakarta, ya.
🌏 Januari: Awal Tahun yang Panas (Karena Perjalanan, Bukan Cuaca)
Coba lihat: tanggal 7 Januari 1922, KH Ahmad Dahlan bersama Nyai Dahlan (istri beliau) pergi ke Banyuwangi. Itu ujung timur Pulau Jawa, lho. Di zaman sekarang pakai mobil bisa 8-9 jam dari Yogya. Di tahun 1922? Bisa berhari-hari. Tapi buat beliau, jarak bukan penghalang. Tujuannya: membuka rapat Muhammadiyah di sana.
Lalu, 25 Januari 1922 — masih di bulan yang sama — beliau ke Solo (Surakarta) bersama Muhammad Kusnie dan R.M. Prawirowiworo. Di Solo, mereka mengesahkan pendirian Cabang Muhammadiyah Solo. Bayangkan, cabang yang sekarang mungkin sudah besar itu, dulu dimulai dari rapat kecil dan restu dari seorang kiai tua yang badannya mungkin masih pegal-pegal karena perjalanan sebelumnya.
Dan nggak berhenti di situ. Tanggal 28 Januari 1922, beliau berangkat lagi, kali ini ke Betawi (Jakarta) bersama Haji Fakhruddin dan M. Abdullah. Ngapain? Propaganda untuk mendirikan sekolah guru agama Islam. Urusan pendidikan, emang bener-bener jadi jantung perjuangan beliau.
30 Januari 1922: masih dengan tim yang sama, beliau singgah di Probolinggo, Jawa Timur. Menyerahkan ijazah kepada ulama-ulama setempat. Bentuk penghormatan dan silaturahmi ilmiah.
Catatan kecil: Dalam satu bulan saja, beliau sudah menyentuh Yogyakarta (pusat), Jawa Tengah (Solo), Jawa Timur (Banyuwangi, Probolinggo), dan Jakarta. Keren, kan?
📅 Juni – Agustus: Ketika Sekolah dan Pengajian Jadi Medan Jihad
Setelah jeda beberapa bulan (yang mungkin diisi dengan urusan rumah tangga dan organisasi di Yogya), 14 Juni 1922 beliau kembali bergerak. Ke Nganjuk bersama Nyai Dahlan dan Siti Umamah. Menghadiri rapat ulama. Lagi-lagi: menghubungkan, menguatkan jaringan.
Tanggal 8 Juli 1922, bersama M. Abdullah, beliau "melanjutkan pimpinan rumah tangga Muhammadiyah Cabang Kepanjon". Istilah "rumah tangga" di sini bukan berarti urusan dapur, tapi urusan manajemen dan pengelolaan organisasi. Detail, sampai ke cabang. Barulah kelihatan tipe pemimpin yang nggak hanya bicara besar, tapi juga turun ke bawah.
Nah, yang menarik: 6 Agustus 1922. Beliau pergi ke Purworejo bersama M. Ng. Joyosugito dan Muhammad Usnie. Di sana, mereka mengajar agama Islam di Hogere Kweekschool voor Indlandsche Onderwijzers (sekolah guru tinggi untuk bumiputera). Masuk ke sekolah-sekolah umum, memberikan pelajaran agama. Ini strategi cerdas: mendidik calon guru, agar mereka nanti bisa menyebarkan ilmu ke mana-mana.
Sehari kemudian, 7 Agustus 1922, beliau ke Kepajen bersama H. Sisyam. Membantu usaha pendirian sekolah agama Islam. Nggak cuma ngomong, beliau ngerjain langsung.
🍃 September – November: Puncak Kesibukan, dari Pekalongan hingga Bangil
Bulan September sibuk sekali. Tanggal 9 September 1922, bersama Nyai Dahlan ke Pekalongan dan Pekajangan. Menggiatkan pengajian Muhammadiyah. Di tengah masyarakat pesisir yang dagang dan sibuk, beliau nyisipkan pengajian.
Tanggal 12 September 1922 — ini menarik: beliau melangsungkan tabligh akbar dalam rapat umum Sarekat Islam di Bangil. Dua organisasi besar (Muhammadiyah dan Sarekat Islam) bersinergi. Kolaborasi, bukan saingan. Pelajaran buat kita yang sekarang kadang suka ribut sendiri.
Tanggal 21 September 1922, beliau kembali ke Purworejo bersama R.M. Prawirowiworo. Ngurusin pengajaran agama Islam di HKS Purworejo. Masalah: pengajaran itu dihentikan oleh Regent (bupati). Jadi beliau turun tangan melobi dan mengurus agar bisa jalan lagi. Nggak cuma ngaji, beliau juga paham birokrasi.
Masuk bulan November, semangat tak surut. Tanggal 4 November 1922, bersama Nyai Dahlan dan M. Tayib, beliau memimpin rapat akbar di Purwokerto. Sekaligus membuka pengajaran agama Islam di Osvia Magelang (sekolah pamong praja). Bayangkan: calon pegawai pemerintahan Hindia Belanda diajari agama Islam oleh Kiai Dahlan. Keren banget kan.
Tanggal 14 November 1922, rapat Muhammadiyah di Salam, Magelang. Dan puncaknya: 18 November 1922, beliau menghadiri rapat ulang tahun ke-10 Muhammadiyah di Solo. Sepuluh tahun! Dari organisasi kecil di Yogyakarta, sudah punya cabang-cabang.
Tanggal 23 November 1922: rapat agama Islam di Perkumpulan Daerah Dalem, Surakarta. Hampir setiap pekan ada agenda.
Tanggal 29 November 1922 — ini perjalanan terakhir yang tercatat di tahun itu: bersama Nyai Dahlan ke Tosari (Pasuruan, Jawa Timur). Menanamkan benih Muhammadiyah dan membantu pendirian masjid.
💡 Apa yang Bisa Kita Petik dari Perjalanan Ini?
Orang sering mikir, berkarya besar itu harus muda, harus punya banyak uang, harus punya koneksi, atau harus sehat bugar. Tapi KH Ahmad Dahlan membalik semua itu.
Di usia menjelang 55 tahun — yang waktu itu termasuk tua — dengan alat transportasi yang jauh dari mewah, dan mungkin dengan kesehatan yang mulai menurun, beliau tetap bergerak. Bukan untuk popularitas. Bukan untuk kekayaan. Tapi karena panggilan jiwa: menyebarkan Islam yang rahmat, memajukan umat, dan mendirikan institusi pendidikan.
Di tahun 1922 saja, beliau mengunjungi: Banyuwangi, Solo, Jakarta, Probolinggo, Nganjuk, Purworejo, Kepajen, Pekalongan, Pekajangan, Bangil, Purwokerto, Magelang, Tosari. Itu 13 kota/kabupaten dalam satu tahun. Dengan moda transportasi seperti kereta api kelas ekonomi, dokar, atau mungkin andong. Jalanan rusak, panas, hujan — tetap jalan.
✨ Kesalahan Umum Saat Meneladani Tokoh Sejarah
Ada dua kesalahan yang sering kita lakukan:
- Mengidolakan secara berlebihan: menganggap mereka superhuman, nggak punya rasa capek, nggak punya masalah keluarga. Padahal mereka juga manusia. Kehebatan mereka justru karena tetap bergerak meski capek dan punya masalah.
- Meniru aktivitasnya tanpa menjiwai tujuannya: “Wah, Kiai Dahlan keliling kota, berarti saya juga harus keliling kota.” Padahal yang perlu ditiru adalah semangat mengabdi dan konsistensi, bukan sekadar fisik bepergian.
🕯️ Penutup: Warisan yang Hidup
Setahun setelah perjalanan-perjalanan melelahkan itu, KH Ahmad Dahlan wafat. Tapi apa yang beliau tinggalkan bukan kuburan biasa. Beliau meninggalkan sistem: ribuan sekolah, ratusan rumah sakit, puluhan universitas, dan jutaan manusia yang hatinya tersentuh oleh gerakan Muhammadiyah.
Jadi, kalau kita merasa lelah dengan rutinitas, atau merasa “ah, saya sudah tua, sudah saatnya istirahat”, ingatlah kisah seorang kiai dari Yogyakarta ini. Dia nggak berhenti sampai benar-benar berhenti.
Kita mungkin tidak perlu ke 13 kota dalam setahun. Tapi kita bisa bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sudah saya lakukan hari ini untuk kebaikan orang lain, tanpa pamrih?”
Sekecil apa pun, jika dilakukan dengan ikhlas dan konsisten, itu adalah bagian dari dakwah. Dakwah bil hal — dakwah dengan tindakan. Seperti yang dicontohkan oleh sang guru bangsa: KH Ahmad Dahlan.
❓ FAQ (Pertanyaan yang Sering Muncul)
- Apakah KH Ahmad Dahlan bepergian sendirian? Tidak, beliau sering ditemani keluarga (Nyai Dahlan, Siti Umamah) dan rekan-rekan dakwah seperti M. Abdullah, Haji Fakhruddin, dll. Itu menunjukkan pentingnya tim.
- Kenapa beliau sangat fokus ke sekolah dan guru? Karena beliau yakin, memajukan umat harus lewat pendidikan. Guru adalah kunci peradaban.
- Apakah semua perjalanan tercatat lengkap? Tentu tidak. Catatan sejarah selalu tidak sempurna. Kemungkinan masih banyak agenda kecil yang tidak terdokumentasi.
- Apakah Muhammadiyah sudah besar saat itu? Di tahun 1922, Muhammadiyah sudah berusia 10 tahun, memiliki 15 cabang, dan 1.230 anggota (yang belum tercakup cabang). Masih kecil, tapi tumbuh cepat.
- Bagaimana cara meneladani semangat beliau di era modern? Dengan menemukan field of impact kita masing-masing. Bisa jadi di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, atau bahkan konten digital. Yang penting: konsisten, tulus, dan tidak lelah belajar.
📖 Sumber utama: Arsip Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah (1977) dan laman resmi Muhammadiyah.or.id.
Ditulis ulang dengan gaya naratif agar lebih membumi dan menginspirasi.
The Last Mission: Tracing KH Ahmad Dahlan’s Dakwah Journeys in 1922, One Year Before His Passing
Have you ever imagined what it feels like to spend your last years on earth not resting or writing a will, but traveling from town to town—by horse cart, economy train, and often on foot—just to share something you deeply believe in?
That’s exactly what KH Ahmad Dahlan, the founder of Muhammadiyah, did in 1922. One year before he passed away (on February 23, 1923), he didn’t slow down. He accelerated. At the age of 53–54—which back then was considered quite senior—he moved like a young man who just found his life’s purpose.
Let’s trace his footsteps. Because this is not just history. This is a living lesson about dedication, bravery, and sincere love for the people.
🌏 January: A Hot Start (Because of the Travels, Not the Weather)
On January 7, 1922, KH Ahmad Dahlan and his wife, Nyai Dahlan, traveled to Banyuwangi, East Java. The eastern tip of Java. Today, it’s an 8–9 hour drive from Yogyakarta. In 1922? It took days. But distance was never an excuse for him. The mission: to open a Muhammadiyah meeting there.
Then January 25, 1922—still the same month—he went to Solo (Surakarta) with Muhammad Kusnie and R.M. Prawirowiworo. They officiated the establishment of the Solo branch of Muhammadiyah. Imagine: a branch that might be huge today started with a small meeting and the blessing of an old kiai whose body was probably still aching from the previous trip.
And he didn’t stop. On January 28, 1922, he left again, this time to Betawi (Jakarta) with Haji Fakhruddin and M. Abdullah. Their goal: to promote the establishment of a religious teacher training school. Education was truly the heart of his struggle.
January 30, 1922: still with the same team, he stopped in Probolinggo, East Java. Handing over diplomas to local ulama. A form of respect and scholarly silaturahmi.
One month, four regions: Yogyakarta, Central Java, East Java, and Jakarta. Impressive, isn’t it?
📅 June–August: When Schools and Religious Gatherings Became the Battlefield
After a few months’ break (likely filled with family and organizational matters in Yogyakarta), on June 14, 1922, he moved again. To Nganjuk with Nyai Dahlan and Siti Umamah. Attending a meeting of ulama. Connecting and strengthening networks.
On July 8, 1922, with M. Abdullah, he continued “leading the household of the Kepanjon Muhammadiyah branch.” “Household” here didn’t mean kitchen matters. It meant management and administration. He paid attention down to the branch level. That’s a leader who doesn’t just talk big but also goes deep.
Then, the interesting one: August 6, 1922. He went to Purworejo with M. Ng. Joyosugito and Muhammad Usnie. They taught Islam at the Hogere Kweekschool voor Indlandsche Onderwijzers (a teacher training college for indigenous people). Entering public schools and providing religious lessons. Smart strategy: educate future teachers so they could spread knowledge everywhere.
The next day, August 7, 1922, he went to Kepajen with H. Sisyam. Helping establish an Islamic school. He didn’t just talk; he worked.
🍃 September–November: Peak Season — From Pekalongan to Bangil
September was extremely busy. On September 9, 1922, with Nyai Dahlan, he went to Pekalongan and Pekajangan. Revitalizing Muhammadiyah recitation gatherings. Amid busy coastal trading communities, he inserted religious study sessions.
On September 12, 1922 — this is interesting: he held a major tabligh (preaching event) during a public meeting of Sarekat Islam in Bangil. Two large organizations (Muhammadiyah and Sarekat Islam) synergized. Collaboration, not rivalry. A lesson for us who sometimes fight among ourselves.
On September 21, 1922, he returned to Purworejo with R.M. Prawirowiworo. Managing the Islamic religious instruction at HKS Purworejo. The problem: the instruction was halted by the Regent (local ruler). So he stepped in to lobby and manage so it could continue. He didn’t only teach; he understood bureaucracy.
Entering November, his spirit didn’t wane. On November 4, 1922, with Nyai Dahlan and M. Tayib, he led a grand meeting in Purwokerto. Simultaneously opening Islamic religious instruction at Osvia Magelang (a civil servant school). Imagine: future Dutch East Indies government officials being taught Islam by Kiai Dahlan. Amazing.
On November 14, 1922, a Muhammadiyah meeting in Salam, Magelang. And the peak: November 18, 1922, he attended the 10th anniversary of Muhammadiyah in Solo. Ten years! From a small organization in Yogyakarta to having branches.
On November 23, 1922: a religious meeting at the Daerah Dalem Association, Surakarta. Almost every week had an agenda.
On November 29, 1922 — the last recorded journey of the year: with Nyai Dahlan to Tosari (Pasuruan, East Java). Planting the seeds of Muhammadiyah and helping build a mosque.
💡 What Can We Learn From These Journeys?
People often think that great work requires youth, wealth, connections, or perfect health. But KH Ahmad Dahlan flipped all that.
At the age of nearly 55—which was considered old back then—with modest transportation and possibly declining health, he kept moving. Not for fame. Not for wealth. But because of a soul calling: to spread a merciful Islam, advance the people, and establish educational institutions.
In 1922 alone, he visited: Banyuwangi, Solo, Jakarta, Probolinggo, Nganjuk, Purworejo, Kepajen, Pekalongan, Pekajangan, Bangil, Purwokerto, Magelang, Tosari. That’s 13 cities/districts in one year. With transportation like economy trains, horse carts, or perhaps andong (traditional horse-drawn carriage). Bad roads, heat, rain — he still went.
✨ Common Mistakes When Emulating Historical Figures
- Over-idolizing: thinking they were superhuman, never tired, never had family problems. But they were humans too. Their greatness came from moving despite being tired and having problems.
- Copying the actions without embodying the purpose: “Kiai Dahlan traveled a lot, so I must travel a lot.” What needs to be emulated is the spirit of service and consistency, not merely the physical act of traveling.
🕯️ Closing: A Living Legacy
One year after those exhausting journeys, KH Ahmad Dahlan passed away. But what he left behind is not an ordinary grave. He left a system: thousands of schools, hundreds of hospitals, dozens of universities, and millions of hearts touched by the Muhammadiyah movement.
So, if you ever feel tired of your routine, or think, “I’m old now, time to rest,” remember the story of this kiai from Yogyakarta. He didn’t stop until he truly stopped.
We may not need to visit 13 cities in a year. But we can ask ourselves: “What have I done today for the good of others, without expecting anything in return?”
No matter how small, if done sincerely and consistently, it is part of dakwah bil hal — preaching through action. Just as exemplified by the great teacher of the nation: KH Ahmad Dahlan.
❓ Frequently Asked Questions
- Did KH Ahmad Dahlan travel alone? No. He was often accompanied by family (Nyai Dahlan, Siti Umamah) and fellow preachers like M. Abdullah, Haji Fakhruddin, etc. That shows the importance of teamwork.
- Why was he so focused on schools and teachers? Because he believed that advancing the people must happen through education. Teachers are the key to civilization.
- Are all his journeys fully recorded? Certainly not. Historical records are never perfect. There were likely many smaller, undocumented agendas.
- Was Muhammadiyah already large at that time? In 1922, Muhammadiyah was 10 years old, had 15 branches, and 1,230 members (not yet covered by branches). Still small, but growing fast.
- How can we emulate his spirit in the modern era? By finding our own field of impact. It could be education, social work, health, or even digital content. What matters: consistency, sincerity, and an untiring desire to learn.
📖 Primary source: Archives of Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jawa Tengah (1977) and the official Muhammadiyah website.
Rewritten in a narrative style to be more grounded and inspiring.

Post a Comment for "Setahun Sebelum Wafat, Kemana Saja Perjalanan Dakwah KH Ahmad Dahlan di Tahun 1922?"
Post a Comment