Welcome to the Friday Chill Study: Coffee, AI & The Qur’an Vibes
Welcome to the Friday Chill Study: Coffee, AI & The Qur’an Vibes
Selamat Datang di IPM Ranting Dahu
Jumat sore. Langit mendung, tapi hati adem. Di pojok aula musholla kecil yang sering jadi markas, kami—anak-anak IPM Ranting Dahu—lagi asyik ngumpul. Tapi bukan sekadar ngumpul biasa. Ini Jumat spesial. Ada “Kajian Ngaji & Ngopi” edisi yang agak absurd: bahas Kecerdasan Buatan dalam Perspektif Islam. Serius, siapa coba yang nyambungin AI sama tafsir Al-Qur'an sambil nyeruput kopi hitam sasetan dan ngemil gorengan?
Tapi ya itulah IPM. Kami suka hal-hal yang ‘katanya berat’ tapi dibikin ringan. Kadang sambil duduk lesehan, kadang ada yang selonjoran, kadang malah ketiduran (nggak apa, itu bentuk khusyuk versi lain). Kajian ini bagian dari program Jumat rutin yang lebih mirip nongkrong berfaedah. Bukan ceramah satu arah, tapi diskusi dua arah, kadang bercabang, kadang muter-muter dulu sebelum nemu titik terang. Tapi seru!
Ngaji Rasa Podcast, Ngopi Rasa Surga
“AI tuh kan nyiptain, padahal mencipta itu sifat Allah,” celetuk Afif, anak kelas 11 yang hobi ngoding. “Tapi AI nggak punya ruh, jadi cuma alat. Kayak pisau. Mau dipakai masak atau membunuh, tergantung manusia.”
Obrolan makin random. Ada yang bawa-bawa surat Al-Baqarah, ada juga yang nyebut hadis tentang ilmu akhir zaman. Ternyata, seru juga mikirin masa depan dari kacamata iman. Diskusinya ngalir banget, kayak podcast, tapi ada hawa ukhuwah yang nggak bisa disubtitusi sama teknologi mana pun.
Dan soal ngopi? Jangan tanya. Kopi sachet lima renceng, gula aren, plus termos besar dari ibu kantin masjid. Yang unik, setiap sesi ngaji & ngopi, ada yang dapat tugas bikin esai refleksi. Kadang tulisannya dibacain, kadang jadi bahan meme internal. “Kamu adalah AI: Anak IPM,” tulis Nisa di esainya. Kami ngakak. Tapi dalam hati, ada bangga juga.
Ketika Al-Qur'an Bicara tentang Logika dan Ilmu
“Dalam QS Al-Alaq, Allah nyuruh kita iqra'—baca, belajar. Tapi juga diingatkan bahwa ilmu harus dengan nama Tuhan,” ucap Kak Dimas, alumni IPM yang sekarang kuliah di UIN.
AI dan Islam ternyata nggak harus bentrok. Bahkan bisa saling sinergi kalau kita punya nilai yang kokoh. AI bisa bantu hafalan Qur'an, bisa jadi asisten murottal, atau bantu bikin konten dakwah di Instagram IPM. Tapi ya tetap, jangan sampai malah jadi “Tuhan baru” yang kita sembah dalam bentuk notifikasi dan rekomendasi algoritma.
Jeda: Gorengan, Tawa, dan Refleksi
Tengah-tengah diskusi, ada jeda. Gorengan datang. Tempe, tahu isi, dan cireng yang masih ngebul. Suasana kekeluargaan makin kerasa. Ada yang ngeledek, ada yang rebutan cabe rawit, ada yang sok bijak bilang, “AI mungkin bisa simulasi rasa lapar, tapi nggak bisa ngerasain nikmatnya tempe goreng gratis.”
Refleksi makin dalam ketika salah satu peserta, Dina, nyeletuk, “Kalau nanti AI bisa hafal Al-Qur’an lebih baik dari kita, kita bakal minder atau termotivasi?” Semua hening. Lalu tertawa. Lalu merenung.
Sampai Azan Maghrib Memanggil
Seperti biasa, sesi ditutup dengan doa dan salat berjamaah. Tapi efek diskusinya tetap kebawa. Di teras musholla, beberapa dari kami masih ngobrol sambil selonjoran. Ada yang nyari-nyari ayat yang tadi disebut, ada yang nyicil konten buat Instagram IPM, ada juga yang cuma duduk diam, menatap langit yang mulai gelap, sambil mikir: “Kalau AI bisa belajar cepat, apa aku udah cukup belajar jadi manusia?”
IPM dan AI: Bukan Takut, Tapi Tumbuh Bersama
Di IPM, kami belajar jadi pelajar yang kritis dan religius. Nggak takut sama masa depan, tapi juga nggak lengah. AI bukan musuh. Tapi bukan Tuhan juga. Dia alat. Kita pemakainya. Dan kalau hari Jumat bisa bikin kita lebih dekat pada Qur’an sambil ngobrol AI, mungkin ini bentuk modern dari halaqah zaman nabi.
Semoga Kajian Ngaji & Ngopi edisi selanjutnya bisa bahas topik se-random dan se-dalam ini lagi. Mungkin tentang metaverse dan kehidupan setelah mati? Atau soal FOMO dan konsep zuhud digital? Atau, siapa tahu, kita malah ngajak AI jadi peserta kajian.
Tapi yang pasti, Jumat itu kami pulang bukan hanya dengan perut kenyang dan kepala penuh ide, tapi juga hati yang lebih tenang. Karena kami percaya, belajar itu bukan cuma soal tahu, tapi juga soal merasa—dan bersama.
Welcome to IPM Ranting Dahu
Friday afternoon. Cloudy sky, but the mood? Cozy. Somewhere in the corner of a small mosque hall we often call home base, we—youths of IPM Ranting Dahu—gathered not just for hanging out. This was a special Friday. The topic? Artificial Intelligence through the Islamic Lens. Sounds heavy? Well, imagine that paired with instant coffee and steaming fried tofu.
That's how we roll in IPM. Take something "serious", turn it into something chill. Sitting cross-legged, sometimes someone lying down (half asleep counts as khusyuk, right?). It wasn’t a lecture. It was more like open mic meets Qur’an circle with tech sprinkled in. It was... fun. Really.
Qur’an Feels like a Podcast, Coffee Tastes Like Heaven
“AI creates stuff, but only Allah creates life,” said Afif, a coding-loving high schooler. “AI has no soul. It's just a tool. Like a knife—good or bad depends on the hand holding it.”
The discussion spiraled. Someone brought up Surah Al-Baqarah. Another quoted hadith about end times and knowledge. The more we spoke, the deeper it got. Like a podcast, but with stronger spiritual vibes. And yes, brotherhood you can’t download.
Coffee? Oh, it flowed. Cheap sachets, palm sugar, a massive thermos. The kind of warmth you can’t code. One of our rituals—someone writes a reflection after every session. Sometimes serious. Sometimes memes. “You are the real AI: Anak IPM,” wrote Nisa once. We cracked up. But yeah... proud, too.
Qur’an Speaks of Logic and Science
“In Surah Al-Alaq, Allah tells us to ‘read’—to learn. But also, to do it in His name,” said Kak Dimas, our alumni now studying at a state Islamic university.
Islam and AI? They don’t have to clash. With strong values, they can walk hand-in-hand. AI can help with memorizing Qur’an, aid dakwah, and generate content for our IPM Instagram. But we mustn’t let it become our god in disguise—a glowing screen with endless dopamine scrolls.
Pause: Fried Snacks, Laughter, and Sudden Realization
Mid-discussion: snack time. Fried tofu, cireng, spicy green chilies. It’s not fancy, but it’s family. Someone made a joke. Someone else stole the last chili. Then someone blurted, “AI can simulate hunger, but not the joy of free fried tempeh.”
Then Dina dropped the bomb, “If AI memorizes the Qur’an better than us, will we feel ashamed or inspired?” Silence. Then laughter. Then... silence again. Thinking.
Until the Maghrib Azan Calls Us
As always, we ended with prayer. But the thoughts lingered. Some of us stayed after. Still scrolling the verses we mentioned. Still laughing over memes. Still staring into the sky like, “If AI can learn so fast, am I learning enough to be fully... human?”
IPM Meets AI: Not Fear, But Growth
IPM shapes us into thoughtful, faithful students. We don’t fear the future—but we don’t worship it either. AI is not an enemy. But it's not a savior either. It’s a tool. We hold the choice.
And if a Friday study like this brings us closer to the Qur’an while chatting about AI? Maybe this is the 21st-century halaqah we were meant to have.
Can’t wait for the next “Ngaji & Ngopi” session. Maybe we’ll talk about metaverse and the afterlife? Or FOMO and spiritual detachment? Or maybe… maybe we’ll invite ChatGPT as a guest?
But for now, we went home that night—not just full of food and ideas, but full of something rare: peace. Because learning is not just about knowing, but about feeling. And belonging.

Post a Comment for "Welcome to the Friday Chill Study: Coffee, AI & The Qur’an Vibes"
Post a Comment